BUDAYA ORGANISASI
Organisasi merupakan
sebuah masukan (input) dan luaran (output) serta bisa juga
dilihat sebagai living organism yang memiliki tubuh dan kepribadian, organisasi sebagai
suatu output (luaran) memiliki sebuah struktur (aspek anatomic), pola
kehidupan (aspek fisiologis) dan system budaya (aspek kultur)
yang berlaku dan ditaati oleh anggotanya. Dari pengertian Organisasi
sebagai output (luaran) inilah melahirkan istilah budaya organisasi atau
budaya kerja.
Menurut
Umar Nimran mendefinisikan budaya organisasi sebagai “Suatu sistem makna yang
dimiliki bersama oleh suatu organisasi yang membedakannya dengan organisasi
lain”(Umar Nimran, 1996: 11)
Sedangkan
Griffin dan Ebbert (Ibid, 1996:11) dari kutipan Umar Nimran
Budaya organisasi atau bisa diartikan sebagai “Pengalaman, sejarah,
keyakinan dan norma-norma bersama yang menjadi ciri perusahaan/organisasi”
Sementara Taliziduhu Ndraha Mengartikan Budaya organisasi sebagai “Potret
atau rekaman hasil proses budaya yang berlangsung dalam suatu organisasi atau
perusahaan pada saat ini”( op.cit , Ndraha, P. 102) Lebih luas lagi
definisi yang diungkapkan oleh Piti Sithi-Amnuai (1989) dalam bukunya “How
to built a corporate culture” mengartikan budaya organisasi sebagai :
A
set of basic assumption and beliefs that are shared by members of an
organization, being developed as they learn to cope with problems of external
adaptation and internal integration.( Pithi Amnuai dari kutipan Ndraha,
p.102)
(Seperangkat
asumsi dan keyakinan dasar yang dterima anggota dari sebuah organisasi yang
dikembangkan melalui proses belajar dari masalah penyesuaian dari luar dan
integarasi dari dalam)
Hal
yang sama diungkapkan oleh Edgar H. Schein (1992) dalam bukunya “Organizational
Culture and Leadershif” mangartikan budaya organisasi lebih luas sebagai :
“ …A patern of shared basic assumptions that the group learned as it
solved its problems of external adaptation and internal integration, that has
worked well enough to be considered valid and, therefore, to be taught to new
members as the correct way to perceive, think and feel in relation to these
problems.( loc.cit, Schein, P.16)
(“… Suatu pola sumsi dasar yang ditemukan, digali dan dikembangkan oleh
sekelompok orang sebagai pengalaman memecahkan permasalahan, penyesuaian
terhadap faktor ekstern maupun integrasi intern yang berjalan dengan penuh
makna, sehingga perlu untuk diajarkan kepada para anggota baru agar mereka
mempunyai persepsi, pemikiran maupun perasaan yang tepat dalam mengahdapi
problema organisasi tersebut).
Sedangkan
menurut Moorhead dan Griffin (1992) budaya organisasi diartikan
sebagai :
Seperangkat
nilai yang diterima selalu benar, yang membantu seseorang dalam organisasi
untuk memahami tindakan-tindakan mana yang dapat diterima dan tindakan mana
yang tidak dapat diterima dan nilai-nilai tersebut dikomunikasikan melalui
cerita dan cara-cara simbolis lainnya(McKenna,etal, op.cit P.63).
Amnuai (1989) membatasi pengertian
budaya organisasi sebagai pola asumsi dasar dan keyakinan yang dianut oleh
anggota sebuah organisasi dari hasil proses belajar adaptasi terhadap permasalahan
ekternal dan integrasi permasalahan internal.
Organisasi
memiliki kultur melalui proses belajar, pewarisan, hasil adaptasi dan
pembuktian terhadap nilai yang dianut atau diistilahkan Schein (1992) dengan considered
valid yaitu nilai yang terbukti manfaatnya. selain itu juga bisa melalui
sikap kepemimpinan sebagai teaching by example atau menurut
Amnuai (1989) sebagai “through the leader him or herself” yaitu
pendirian, sikap dan prilaku nyata bukan sekedar ucapan, pesona ataupun
kharisma.
Dari
pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa budaya organisasi diartikan sebagai
kristalisasi dari nilai-nilai serta merupakan kepercayaan maupun harapan
bersama para anggota organisasi yang diajarkan dari generasi yang satu
kegenerasi yang lain dimana didalamnya ada perumusan norma yang disepakati para
anggota organisasi, mempunyai asumsi, persepsi atau pandangan yang sama dalam
menghadapi berbagai permasalahan dalam organisasi.