PROSES MENUMBUHAN budaya organisasi
Langkah-langkah yang
dilakukan oleh tumbuhnya budaya organisasi bisa diibaratkan sebagai suatu langkah
sebagaimana disebut oleh Samuel Smiles, dimulai
dengan pikiran, dalam menciptakan perubahan-perubahan
harus selalu dimulai dari dalam (diri).
Dan, di dalam memulainya berupa sebentuk niat/pikiran baik untuk “berubah”.
Pikiran-pikiran baik
yang mulai terbina kemudian dipupuk terus hingga menjadi sebuah “tindakan”.
Tindakan yang mestinya juga baik karena dimotori oleh niat yang baik. Organisasi
kemudian memilih siapa-siapa yang
dapat direkrut menjadi “agen perubahan” bagi budaya organisasi sebagai pelaku
dari “Tindakan”.
Agen-agen ini akan menyuarakan
“tema-tema” dari revitalisasi budaya organisasi dalam bentuk contoh-contoh nyata sikap/tindakan,
pada divisi di mana agen-agen tersebut ditempatkan. Peran agen perubahan ini
sangat penting bagi proses menumbuhkan sikap dan tindakan yang menjadi
benih-benih budaya organisasi. Mereka adalah tokoh-tokoh sentral penggerak dan penentu berhasil-tidaknya proses
ini.
Awalnya, penempatan
agen tersebut akan tidak mudah karena menimbulkan
kecurigaan (terhadap kapasitas, tugas, dan kewajiban agen tersebut) dan ketidakpastian (bagi masa depan karyawan
dan hasil yang diinginkan oleh manajemen). Hal ini dapat dimaklumi karena ini
adalah konsekuensi dari adanya “perubahan”.
Hari demi hari
berganti, agen-agen tersebut tanpa kenal lelah mempromosikan hal-hal atau sikap
dan tindakan baru bagi organisasi. Mereka mendatangi
karyawan hingga ke bagian/unit terkecil, mengajak para karyawan untuk berdialog, bertukar pikiran, memperlihatkan kebiasaan mana yang
harus tetap dipelihara (kebiasaan baik) dan kebiasaan apa yang harus segera
ditinggalkan oleh jajaran karyawan (kebiasaan buruk). Meskipun pada awalnya
sangat sulit, karena harus meninggalkan kebiasaan lama, tetapi perbaikan akan
dapat dirasakan meskipun sedikit.
Masing-masing agen
bersama manajemen tidak kenal lelah untuk terus meyakinkan bahwa perubahan akan
menimbulkan perbaikan bagi organisasi, dan hal ini memang membutuhkan waktu
yang tidak sebentar. Di sisi lain, manajemen mulai membenahi subsistem
manajemen yang menjadi sumber permasalahan di organisasi. Pasalnya, sebaik
apa pun budaya yang diterapkan di dalam organisasi tidak akan berhasil baik
tanpa adanya sistem yang menjamin
keberlangsungan budaya organisasi. Perbaikan dan pembenahan misalnya dalam “Sistem Remunerasi ”.
Inilah
langkah-langkah akhir mendekati matangnya
budaya organisasi: organisasi telah menumbuhkan dan memelihara
kebiasaan-kebiasaan yang baik. Jajaran organisasi tanpa ragu-ragu lagi
menjalankan nilai-nilai organisasi, serta tidak lupa saling mengingatkan
teman-teman/rekanannya untuk tetap konsisten. Agen-agen yang telah direkrut pun
tumbuh makin banyak. Bahkan, tanpa diminta, mereka merekrut lebih banyak lagi
agen baru. Kebiasaan-kebiasaan baik telah terpupuk dan terpelihara dengan baik
hingga menjadi nilai-nilai yang berakar kuat; dan menjadi karakter yang mudah
sekali ditemui/dikenali bilamana kita bertegur sapa dengan anggota organisasi tersebut. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari kerja keras para agen,
manajemen, dan karyawan yang ingin berubah.
Dengan
kebiasaan dan
karakter semua insan di dalamnya, dengan segala sesuatunya sudah baik,
dengan
rantai yang rusak/hilang telah diperbaiki, maka para penerus organisasi
dibekali atau diwarisi budaya yang solid serta karakter yang kuat.
Sebab, hal
itulah yang merupakan semangat yang menumbuhkan dan menggerakkan
organisasi. Organisasi pun dapat berharap memiliki karakter yang
diinginkan.
Dan, dengan itu, maka hanya persoalan waktu sajalah nasib baik datang
kepada
mereka.
(dari berbagai sumber)