Selasa, 06 November 2012


Budaya Profesionalisme


Dalam perkembangan berikutnya dapat kita lihat ada keterkaitan antara budaya dengan disain organisasi atau hubungan budaya dengan keberhasilan suatu Organisasi sesuai dengan design culture yang akan diterapkan. Untuk memahami disain organisasi tersebut, Harrison ( McKenna, etal, 2002: 65) membagi empat tipe budaya organisasi :
1. Budaya kekuasaan (Power culture).
Budaya ini lebih mempokuskan sejumlah kecil pimpinan menggunakan kekuasaan yang lebih banyak dalam cara memerintah. Budaya kekuasaan juga dibutuhkan dengan syarat mengikuti esepsi dan keinginan anggota suatu organisasi.
Seorang dosen, seorang guru dan seorang karyawan butuh adanya peraturan dan pemimpin yang tegas dan benar dalam menetapkan seluruh perintah dan kebijakannya. Kerena hal ini menyangkut kepercayaan dan sikap mental tegas untuk memajukan institusi organisasi. Kelajiman diinstitusi pendidikan yang masih meenganut manajemen keluarga, peranan pemilik institusi begitu dominan dalam pengendalian sebuah kebijakan institusi akademis, terkadang melupakan nilai profesionalisme yang justru hal inilah salah satu penyebab jatuh dan mundurnya sebuah perguruan tinggi.
2. Budaya peran (Role culture)
Budaya ini ada kaitannya dengan prosedur birokratis, seperti peraturan organisasi dan peran/jabatan/posisi spesifik yang jelas karena diyakini bahwa hal ini akan mengastabilkan sistem. Keyakinan dan asumsi dasar tentang kejelasan status/posisi/peranan yang jelas inilah akan mendorong terbentuknya budaya positif yang jelas akan membantu mengstabilkan suatu organisasi. Bagi seorang dosen tetap jauh lebih cepat menerima seluruh kebijakan akademis daripada dosen terbang yang hanya sewaktu-waktu hadir sesuai dengan jadwal perkuliahan. Hampir semua orang menginginkan suatu peranan dan status yang jelas dalam organisasi.
Bentuk budaya ini kalau diterapkan dalam budaya akademis dapat dilihat dari sejauhmana peran dosen dalam merancang, merencanakan dan memberikan masukan (input) terhadap pembentukan suatu nilai budaya kerja tanpa adanya birokarasi dari pihak pimpinan. Jelas masukan dari bawah lebih independen dan dapat diterima karena sudah menyangkut masalah personal dan bisa didukung oleh berbagai pihak melalui adanya perjanjian psikologis antara pimpinan dengan dosen yang dibawahnya. Budaya peran yang diberdayakan secara jelas juga akan membentuk terciptanya profesionalisme kerja seorang dosen dan rasa memiliki yang kuat terhadap peran sosialnya di kampus serta aktifitasnya diluar keegiatan akademis dan kegiatan penelitian.
3. Budaya pendukung (Support culture)
Budaya dimana didalamnya ada kelompok atau komunitas yang mendukung seseorang yang mengusahakan terjadinya integrasi dan seperangkat nilai bersama dalam organisasi tersebut. Selain budaya peran dalam menginternalisasikan suatu budaya perlu adanya budaya pendukung yang disesuaikan dengan kredo dan keyakinan anggota dibawah. Budaya pendukung telah ditentukan oleh pihak pimpinan ketika organisasi/institusi tersebut didirikan oleh pendirinya yang dituangkan dalam visi dan misi organisasi tersebut. Jelas didalamnya ada keselaran antara struktur, strategi dan budaya itu sendiri. Dan suatu waktu bisa terjadi adanya perubahan dengan menanamkan budaya untuk belajar terus menerus (longlife education)
4. Budaya prestasi (Achievement culture)
Budaya yang didasarkan pada dorongan individu dalam organisasi dalam suasana yang mendorong eksepsi diri dan usaha keras untuk adanya independensi dan tekananya ada pada keberhasilan dan prestasi kerja. 

budaya-budaya diatas secara bersamaan akan berupaya menciptakan apa yang disebut profesionalisme.

(berbagai sumber)

7 komentar:

  1. yang disebut dengan profesional,sepeti budaya batik itu bisa dikatakan budaya profesional,karna hasil karya atau dsain seseorang dan dijadikan budaya

    BalasHapus
  2. Profesionalisme, adalah sifat
    professional, dan profesionalisasi adalah proses membuat suatu badan menjadi professional,profesionalisme mencakup, antara lain ; budaya profesi, kualifikasi, kompetensi, ketrampilan, komitmen,
    konsitensi, etos kerja, kode etik dan dedikasi.Profesi guru, adalah karya
    profesi. bahwa karya profesi memerlukan kemampuan dasar, yakni membaca dan belajar sepanjang hayat, etos dan etika kerja, dan ketrampilan nalar dan ketrampilan tangan.
    Guru sebagai tenaga kependidikan wajib dan mutlak memiliki karya profesi tersebut, sehingga dengan memiliki
    ketrampilan dasar itu, maka seorang guru akan menjadi professional. dan hal ini merupakan budaya profesionalisme.

    BalasHapus
  3. Sebagai contoh yaitu perguruan tinggi. Sehingga perguruan tinggi harus dikelola dengan profesional memiliki dua faktor sebagai bentuk penerapan budaya akademis yang kuat yaitu :
    1. Profesional personal.
    Adapun profesional personal ini memiliki karakteristik antara lain :
    a) Bangga atas pekerjaannya sebagai dosen dengan komitmen pribadi yang kuat atas kreatifitas.
    b) Memiliki tanggungjawab yang besar, antisipatif dan penuh inisatif.
    c) Ingin selalu mengerjakan pekerjaan dengan tuntas dan ikut terlibat dalam berbagai tugas diluar yang ditugaskan kepadanya.
    d) Ingin terus belajar untuk meningkatkan kemampuan kerja dan kemampuan melayani.
    e) Mendengarkan kebutuhan mahasiswa dan dapat bekerja denga baik dalam tim.
    f) Dapat dipercaya, jujur, terus terang dan loyal.
    g) Terbuka terhadap kritik yang bersifat konstruktif serta siap untuk meningkatkan dan menyempurnakan dirinya.

    2. Professional institusional.
    Adapun karakteristik profesional institusional dapat dilihat dalam karakteristik sebagai berikut :
    a) Perkuliahan berjalan lancar, dinamis dan dialogis.
    b) Masa studi mahasiswa tidak lama dan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan memperoleh indeks prestasi yang tinggi.
    c) Minat masyarakat yang memasuki perguruan tuinggi adalah besar, karena perguruan tinggi yang bersangkutan adalah legitimate dan credible.
    d) Memiliki staf pengajar yang telah lulus studi lanjut (S2 dan S3) dan
    e) Aktif dalam Pertemuan ilmiah serta produktif dalam karya ilmiah.
    f) Pengelolaan perguruan tinggi yang memiliki visi yang jauh kedepan, otonom, fleksible serta birokrasi yang singkat dan jelas.
    g) Program perguruan tinggi, baik akademik maupun administratif harus disusun secara sistematis, sistemik dan berkelanjutan.
    h) Kampus harus dibenahi secara bersih, hijau dan sejuk.
    i). Alumni perguruan tinggi harus mampu bersaing secara kompetitif, baik secaranasional maupun global.

    BalasHapus
  4. Profesional adalah Melayani
    Organisasi yang profesional tidak bekerja untuk kepuasan diri sendiri saja tanpa peduli pada sekitarnya. Sebaliknya, kepuasannya muncul karena konstituen, pelanggan, atau pemakai jasa profesionalnya telah terpuaskan lebih dahulu via interaksi kerja.

    Profesional adalah Pembelajar
    Sebuah organisasi yang profesional adalah organisasi yang orang-orangnya mendapat pendidikan dan pelatihan khusus di bidang profesi di dalamnya.


    Profesional adalah Pengabdian
    Seorang profesional memilih dengan sadar satu bidang kerja yang akan ditekuninya sebagai profesi. Pilihannya ini biasanya terkait erat dengan ketertarikannya pada bidang itu, bahkan ada semacam rasa keterpanggilan untuk mengabdi di bidang tersebut.

    BalasHapus
  5. Profesionalisme adalah sebuah istilah atau sebutan yang diberikan kepada seseorang yang dalam melaksanakan tugas yang diberikan dijalankan dengan baik dan penuh tanggungjawab dalam sebuah organisasi atau pekerjaan yang telah dijalankan, dan selalu meningkatkan kualitas yang diharapkan dalam sebuah bidang pekerjaan atau Organisasi.

    Profesionalisme sangat diperlukan dalam sebuah organisasi. Dimana setiap orang dituntut untuk bekerja secara profesional. ini juga bersangkutan dengan empat tipe diatas.
    ~pertama aspek kekuasaan,dimana pekerja mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan;
    ~kedua aspek peran, diman peran memerintah harus relevan dengan peran yang diperintah;
    ~ketiga aspek pendukung, dimana sarana dan prasarana yang mendukung budaya organisasi;
    ~ke empat prestasi, dimana tanpa prestasi belum dapat dikatakan propesional.

    Profesionalisme sendiri menuntut orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu sesuai dengan profesi yang mereka miliki. Karena dalam sebuah organisasi dibutuhkan serta dituntut suatu kualitas dalam sebuah pekerjaan,yang mana sangat berkaitan erat dengan profesi seseorang. Misalkan dalam dunia komputer dibutuhkan seorang yang padai dalam bidang komputer yang dicari orang yang berprofesi sebagai ahli komputer, bukan seorang ahli hukum.

    BalasHapus
  6. profesional adalah kemandirian dalam tingkah laku individu yang di curahakn didalam unit organisasi.peran pemimpin yang secara konsiten dalam menadaptasikan pikiran2 dan tindakan sehingga dapat mengayomi SDM yang berada didalamnya untuk berkerja dengan prinsip ,bertanggung jawab,berusaha keras,disiplin dg aturan,dan mampu menyelesaikan pekerjaan yang di emban,,

    BalasHapus
  7. profesionalisme adalah mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau ciri orang yang profesional. Sementara kata profesional sendiri berarti: bersifat profesi, memiliki keahlian dan keterampilan karena pendidikan dan latihan, beroleh bayaran karena keahliannya itu.

    BalasHapus